PUISI & HAKIKAT PUISI




Johnson (dalam Tarigan, 1984: 5) berpendapat bahwa puisi adalah peluapan spontan dari perasaan penuh daya yang bercikal-bakal dari emosi kemudian berpadu kembali dalam kedamaian. Pendapat tersebut pada intinya menyatakan bahwa puisi merupakan karya yang muncul dari luapan emosi atau perasaan yang disampaikan secara terpadu dan dengan cara yang damai. Luxemburg dalam Priatni (2003: 17) mengatakan bahwa puisi dapat dikatakan sebagai informasi yang dipadatkan, yang mengungkap sebanyak mungkin dengan sedikit kata. Pendapat tersebut menyatakan bahwa puisi merupakan suatu pesan yang ingin di sampaikan oleh penulis kepada para pembacanya dengan kata-kata yang padat, tepat, dan terpilih. Sedangkan Boswell (dalam Hartoko, 1982: 175) berpendapat bahwa puisi itu adalah teks-teks monolog yang isinya pertama-tama bukan merupakan sebuah alur.
Penjelasan tersebut merupakan suatu pernyataan bahwa puisi merupakan karya sastra yang berbentuk tertulis dan dalam menyampaikan hanya menggunakan pembicara satu arah serta berbeda dengan bentuk sastra yang lain. Suprapto (1993: 65) berpendapat bahwa puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, rima, serta penyusunan larik dan bait. Pendapat tersebut pada intinya menyatakan bahwa puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang memiliki ciri tersendiri, baik dari susunan, penulisan, pembacaan dan sebagainya.
Sarumpaet (2002: 16) mengatakan bahwa puisi adalah pengalaman hidup yang ditulis kembali secara padat dan baru dalam permainan kata yang penuh imaji dan perlambangan. Pada dasarnya pendapat tersebut, menyatakan bahwa isi puisi merupakan curahan dari sebuah pengalaman yang dituliskan dengan penuh imajinasi, kata-kata yang padat, dan indah. Watts (dalam Tarigan, 1984: 7) mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi yang kongkrit dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. Selanjutnya Kosasih (2003: 235) menyatakan bahwa puisi merupakan karya sasta yang menggunakan kata-kata yang indah dan kaya makna. Pendapat tersebut pada dasarnya menyatakan bahwa puisi merupakan ekspresi nyata dari emosi dan pikiran manusia yang dituangkan ke dalam bahasa dengan irama dan susunan keindahan kata yang bersifat imajinatif.
Berdasarkan beberapa pendapat yang di sampaikan di atas, dapat di simpulkan pengertian puisi adalah sebuah karya sastra yang berbentuk teks (tertulis) yang terdiri atas larik dan bait yang lahir dari jiwa, pikiran, pengalaman, dan perasaan seseorang yang di padatkan dengan pilihan kata yang mempunyai nilai keindahan bahasa dan makna yang merupakan pesan penyair kepada para pembacanya (amanat).

A.      Unsur-unsur Pembangun Puisi
Unsur-unsur pembangun puisi cukup kompleks dan sangat berpengaruh dalam pengajaran menulis puisi. Kosasih (2003: 235-241) menyatakan bahwa secara garis besar unsure-unsur puisi terbagi kedalam dua macam, yaitu struktur fisik dan struktur bathin.
1.   Unsur fisik
Unsur fisik meliputi hal-hal berikut.
a.    Diksi (pemilihan kata)
Penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata yang di tulis sangat di pertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima, kedudukan kata itu dalam konteks atau dalam hubungan dengan kata yang lain, serta kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. Oleh karena itu disamping memiliki kata yang tepat, penyair juga mempertimbangkan urutan katanya dan kekuatan daya magis dari kata-kata tersebut. Kata-kata diberi makna baru dan yang tidak bermakna diberi makna menurut kehendak penyair.
Karena begitu pentingnya kata-kata dalam puisi, maka bunyi kata juga harus dipertimbangkan secara cermat dalam pemilihannya karena pemilihan kata mempertimbangkan sebagai aspek estetis, maka kata-kata yang sudah di pilih penyair untuk puisinya bersifat absolut dan tidak bisa diganti dengan padan katanya sekalipun maknanya itu tidak berbeda. Hendaknya disadari pula bahwa dalam puisi bersifat konotatif. Makna dari kata-kata itu mungkin lebih dari satu. Kata-kata yang dipilih hendaknya bersifat puitis, yang mempuinyai efek keindahan dan berbeda dengan kata-kata yang biasa kita pakai sehari-hari.
b.   Pengimajian
Pengimajian dapat didefinisikan sebagai kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman imajinasi. Dengan daya imajinasi yang diciptakan penyair, maka pada kata-kata puisi itu seolah-olah tercipta sesuatu yang dapat di dengar dilihat, atau pun dirasakan pembacanya.
c.    Kata kongkret
Untuk membangkitkan imaji(daya bayang) pembaca,maka kata-kata harus di perkongkret. Jika penyair mahir mempengkongkret kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar atau merasa apa yang dilukiskan oleh penyair jika imaji pembaca merupakan akibat dari pengimajian yang diciptakan penyair, maka kata-kata kongkret merupakan sebab terjadinya pengimajian itu. Dengan kata yang diperkongkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh penyair.
d.   Bahasa figuratif (majas)
Majas (figurative languge) merupakan bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara pengiasan, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Majas digunakan penyair untuk menyampaikan perasaan, pengalaman batin, harapan, suasana hati, atau pun semangat hidupnya. Hal ini dilakukan agar penyair terhindar dari keterbatasan kata-kata denotatif yang bermakna lugas. Majas mengiaskan atau mempersamakan sesuatu dengan suatu hal yang lain agar sesuatu itu dapat digambarkan dengan lebih jelas.
e.    Rima/Ritma
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Rima berfungsi membentuk musikalitas. Dengan adanya rima itulah, efek bunyi yang dikehendaki penyair semakin indah dan makna yang ditimbulkan lebih kuat.
f.    Tata wajah(tipografi)
Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Larik-larik puisi tidak berbentuk paragraf.

2.   Unsur Batin
Ada empat unsur batin puisi yakni: Tema(sense), perasaan penyair(feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intetion).
a.    Tema dan Amanat
Tema dan amanat merupakan bagian dari struktur batin puisi. Tema adalah pokok persoalan yang akan diungkapkan oleh penyair. Tema merupakan persoalan yang diungkapkannya itu merupakan penggambaran suasana batin.
b.   Perasaan
Puisi merupakan karya sastra yang mewakili ekspresi perasaan penyair. Bentuk ekprsi itu dapat berupa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kepada kekasih, kepada alam, oleh karena itu bahasa dalam puisi akan terasa sangat ekpresif dan lebih padat.
c.    Nada dan suasana
Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca: apakah dia bersikap menggurui, menasehati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur pembangun puisi meliputi judul, diksi, imagi, bahasa figuratif, bunyi atau suara, rima, ritme, tema, dan amanat. Artinya, untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan puisi haruslah mengetahui unsur-unsur pembangun puisi tersebut.

B.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penciptaan Puisi
Menciptakan sebuah karya sastra membutuhkan ide atau ilham yang kemudian menjadi dasar dari suatu penciptaan karya sastra tersebut. Effendi (2002: 5) berpendapat bahwa pada dasarnya isi sastra, khususnya puisi merupakan hasil pengalaman nalarnya (termasuk pengalaman batin penyair). Hal ini berarti bahwa hasil karya sastra puisi merupakan perwujudan dari hasil pengalaman para penciptanya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ide para penyair itu dapat muncul berdasarkan pengalaman. Endraswara (2003: 149) menjelaskan bahwa ilham dalam menulis puisi dapat diperoleh dari penangkapan setiap fenomena saja. Dikatakan pula bahwa timbulnya ilham tergantung daya kritis dan kreatif peserta didik. Melihat penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa munculnya ilham (ide) sangat didukung oleh kepekaan seseorang dalam menangkap dan mengungkap fenomena yang ditemui, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Berpedoman pada penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ide dalam penciptaan puisi,yaitu:
1.      Pengalaman (indra dan nalar);
2.      Kepekaan terhadap suatu fenomena;
3.      Kemampuan berpikir kritis (daya kritis);
4.      Jiwa kreatif.
Contoh Puisi

tHe eNd

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar