CERPEN
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentu prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan fiksi yang panjang. 
Cerpen bisa didefinisikan sebagai sebuah cerita yang formatnya sangat singkat, dan berisi penggalan cerita tertentu. Cerpen adalah karya fiksi. Maksudnya, cerita yang terkandung di dalamnya bukan kisah nyata.  
Namun walaupun sama-sama pendek, panjang cerpen itu sendiri bervariasi, panjang cerpen bervariasi menjadi 3 macam. Pertama, cerpen yang sangat pendek (short short story) atau biasa disebut cermin atau cerpen mini yang berkisar antara 500-an kata. Kedua, cerpen dengan panjang sedang (middle short story) yang selama ini dikenal sebagai cerpen. Sementara yang ketiga, cerita panjang (long short story) dan biasa digolongkan sebagai novelet atau novel kecil yang biasanya terdiri dari puluhan ribu kata.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa cerita pendek adalah cerita fiksi yang bentuknya pendek dan ruang lingkup permasalahannya menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang menarik perhatian pengarang, menggambarkan kehidupan pelaku atau tokoh secara singkat, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan. Unsur intrinsik adalah  unsur yang membangun sebuah karya sastra dari dalam, seperti: Tema, amanat , alur, karakterisasi, setting, dan point of view.

Tujuan pengarang dalam menciptakan karya sastra, bukan semata-mata ingin menyampaikan ‘jalan cerita’, melainkan ada konsep pemikiran tertentu yang hendak dikemukakannya. Pokok pikiran, ide, atau gagasan yang mendasari karangan itulah yang disebut tema. 
Dalam karya sastra, tema senantiasa berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan dan pola tingkah laku. Tema yang banyak dijumpai pada karya sastra yang bersifat didaktis adalah pertentangan antara nilai baik - buruk, misalnya dalam bentuk kebohongan melawan kejujuran, kezaliman melawan keadilan, korupsi melawan kerja keras dan sebagainya.
1.1  Perwujudan Tema
Tema cerita kadang-kadang dinyatakan secara eksplisit oleh pengarangnya, baik melalui dialog, pemaparan, maupun judul karya, sehingga pembaca mudah memahami. Dari membaca judulnya saja, misalnya Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, Dua Dunia dan lain-lain, dengan mudah pembaca dapat menebak temanya. Meskipun demikian, harus disadari bahwa tidak semua judul menunjukkan tema cerita. Ada pula judul-judul yang bersifat simbolik, misalnya Layar Terkembang, Belenggu dan lain-lain. Dengan demikian, untuk menggali tema cerita tidak selalu mudah karena banyak pula yang bersifat implisit (tersirat), sehingga seseorang perlu membaca lebih dahulu seluruh cerita dengan tekun dan cermat.
Penyampaian tema kadang-kadang didukung oleh pelukisan latar, alur, dan penokohan. Tema bahkan dapat menjadi faktor yang mengikat peristiwa-peristiwa dalam alur. Pada umumnya tema demikian dominan, sehingga menjadi kekuatan yang mempersatukan berbagai unsur yang bersama-sama membangun karya sastra dan menjadi motif tindakan tokoh. Sebagai contoh dalam cerpen Nama karya Putu Wijaya, tema kepemimpinan yang dipaparkan merasuki hampir pada setiap unsur karya tersebut. Karakter tokoh-tokohnya terbangun karena adanya persepsi yang berbeda-beda tentang kepemimpinan, konflik cerita dan alurnya berpusat pada masalah tersebut, bahkan dialog antartokoh pun mengungkapkan tentang kepemimpinan yang merupakan tema cerpen ini.
1.2  Tema ‘Ringan’ – Tema ‘Berat’
            Banyak orang berpendapat bahwa mutu karya sastra dapat diukur dari ‘berat’ ‘ringan’-nya tema yang diemban. Ini kurang tepat, mengingat banyak cerita dengan tema yang sama, tetapi ternyata memiliki bobot kesastraan yang berbeda. Misalnya saja masalah cinta, keluarga, maupun perjuangan hidup, oleh pengarang tertentu dapat digarap dan menghasilkan karya sastra yang bermutu, sedangkan di tangan pengarang lain hasilnya belum tentu demikian.
            Dapat disimpulkan bahwa baik buruknya suatu karya tidak ditentukan oleh tema (karena gagasan yang sama dapat menjadi tema berpuluh-puluh cerita yang baik, yang sedang, maupun yang buruk), namun ditentukan oleh mendalam tidaknya tema tersebut digarap. Karya yang bermutu tidak hanya mengungkapkan jalinan peristiwa, melainkan mengetengahkan juga falsafah-falsafah kemanusiaan yang mendorong pembaca untuk berkontemplasi (Oemarjati, 1962 : 54 – 55). Dengan demikian, sambil menikmati karya sastra pembaca sekaligus mendapat ‘makanan’ untuk perkembangan budinya, sehingga ia menjadi lebih arif dalam menyikapi kehidupan, baik terhadap sesama maupun dalam hubungannya dengan Tuhan.
            Konflik kejiwaan yang menjadi tema novel Pulang karya Toha Mohtar misalnya, digarap dengan sangat mendalam. Tema tersebut terwujud melalui karakter Tamin, bekas Heiho yang sekembalinya dari Birma malah bergabung dengan tentara Sekutu karena ketidaktahuannya. Ketika pulang, ia disambut dengan kegembiraan yang mengharukan, namun perasaan bersalah sebagai pengkhianat
- walaupun tak seorang pun warga desa mengetahui hal itu - mendorongnya untuk ‘membuang’ diri meninggalkan desanya dengan membawa konflik yang mencabik-cabik batin.
1.3  Pengarang dan Pilihan Tema
            Pada dasarnya pilihan tema tidak terbatas. Ada pengarang yang menggarap tema berbeda-beda setiap kali menciptakan suatu karya, ada pula yang selalu hadir dengan tema-tema tertentu.
            Kecuali pilihan pribadi, beberapa faktor mempengaruhi pilihan tema, misalnya selera pembaca pada suatu masa, peristiwa politik maupun sosial yang terjadi, konvensi zaman, bahkan keinginan penerbit atau penguasa ikut menentukan. Itulah sebabnya pada tahun dua puluhan, ketika masyarakat sedang gencar berjuang melawan adat kawin paksa, maka karya sastra yang muncul kebanyakan tentang tema tersebut. Pada masa yang berbeda, saat politik bergolak, atau krisis ekonomi terjadi, atau ketika pemerintah giat melancarkan kampanye pelestarian lingkungan, maka pilihan tema biasanya sejalan dengan peristiwa-peristiwa tersebut.
            Walaupun banyak pengarang yang mengangkat tema sesuai peristiwa atau kebutuhan zaman seperti telah dijelaskan di atas, namun dari masa ke masa tema-tema umum tentang moral, keadilan, cinta, dan kemanusiaan juga selalu eksis dan digemari.
1.4   Menafsirkan Tema
            Menemukan tema karya sastra tidak selalu mudah. Hal ini disebabkan seringkali terjadi kesenjangan antara makna muatan (tema yang nampak dalam suatu karya) dengan makna niatan (maksud pengarang). Penyebabnya mungkin pengarang kurang pandai menjabarkan tema yang dikehendakinya, sehingga yang tertangkap oleh pembaca berbeda dengan maksud pengarang. Bisa juga karena hakekat karya sastra itu sendiri yang multi-interpretable, sehingga tiap-tiap pembaca memiliki pendapat yang berbeda. Perbedaan demikian wajar terjadi, yang penting tafsiran tersebut dapat dipertanggungjawabkan dengan bukti-bukti kuat yang diambil dari unsur-unsur karya yang bersangkutan. Jadi, penafsiran tema hanya boleh didasarkan pada aspek-aspek yang dikemukakan dalam cerita dan tidak dipaksakan dari luar.
Meskipun di atas telah diuraikan bahwa perbedaan penafsiran dianggap wajar, harus dihindari penyimpangan yang terlalu jauh. Dalam menafsirkan tema, sedapat mungkin ‘tertangkap’ tema sentral/mayornya, sedangkan tema sampingan/ minor boleh dikemukakan sebagai aspek yang melengkapi.
Misalnya tema sentral Pada Sebuah Kapal  karya N.H. Dini adalah masalah emansipasi wanita yang dimanifestasikan melalui tokoh Sri. Untuk menyampaikan tema tersebut pengarang mengungkapkannya melalui persoalan-persoalan dalam pernikahan, percintaan antartokoh, kegagalan berumah tangga dan sebagainya. Hal-hal itu adalah tema sampingan/minor yang berfungsi mengembangkan alur menuju tema sentralnya tentang emansipasi wanita.
Contoh lain Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya Hamka yang tema sentralnya tentang harkat dan martabat manusia. Tema tersebut dikemukakan oleh pengarangnya melalui permasalahan adat dan cinta. Jadi, walaupun dalam novel ini terdapat pemaparan tentang adat dan cinta, keduanya hanya merupakan tema sampingan yang berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tema sentral yang sesungguhnya.
1.5  Tema dan Topik
Kecuali tema, kita juga mengenal istilah topik yang bersifat lebih khusus/konkret karena pada dasarnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari tema. Contohnya dari tema emansipasi wanita, dapat diturunkan topik-topik seperti :
-          Kedudukan dan kesempatan bagi wanita untuk mengembangkan eksistensi belum sepenuhnya terbuka lebar.
-          Perlakuan yang tidak layak dari seorang suami kepada istrinya merupakan pelecehan terhadap martabat wanita.
            Contoh lain tema martabat manusia yang diemban oleh novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono, dijabarkan dalam topik ‘keadaan sulit yang dialami seseorang, dapat menyebabkan ia rela kehilangan martabat’.
             Tema peperangan dalam cerpen Telinga karya Seno Aji Gumira, dijabarkan dalam topik ‘peperangan mengakibatkan seseorang kehilangan rasa kemanusiaannya’.
            Tema karya sastra bisa meliputi aspek kejiwaan manusia, aspek sosial, politik, adat-istiadat dan lain-lain, yang masing-masing dapat lebih dikonkretkan menjadi topik yang bersifat lebih khusus.

2.   Amanat
Amanat sering pula disebut pesan moral atau himbauan-himbauan yang terdapat dalam cerita. Pada masa lampau, pesan moral seringkali  disampaikan oleh pengarang secara eksplisit, verbal dan langsung; tetapi di zaman modern ini agaknya cara seperti itu sudah jarang terjadi. Penulis-penulis sekarang lebih sering menyiratkan pesan secara implisit melalui perilaku tokoh, terutama menjelang cerita berakhir. Teknik demikian kecuali menghilangkan kesan ‘menggurui’, juga memberi keleluasaan pada pembaca untuk mencari dan menemukan sendiri pesan moral suatu cerita.
Yang harus diingat, amanat mempunyai kaitan yang sangat erat dengan topik, bahkan seperti mata uang yang memiliki dua sisi. Hal yang membedakan hanyalah pada cara merumuskan. Perumusan topik berupa kalimat pernyataan, sedangkan perumusan amanat berupa kalimat perintah, saran-saran, dan himbauan-himbauan, seperti :
v Sebagai warga negara suatu bangsa, hendaknya kita ikut serta menciptakan
      perdamaian. Sedapat mungkin hindari peperangan karena peperangan dapat  
      mengikis rasa peri kemanusiaan.
v Jangan menjadi manusia yang sombong. Ingatlah, kesombongan merupakan  
      awal kehancuran.
v Kita harus memiliki sifat rela berkorban, khususnya bagi sahabat.

3.        Plot/Alur
         Marjorie Boulton (1984 : 75) mengibaratkan alur sebagai rangka di dalam tubuh manusia yang berfungsi menopang tubuh agar dapat berdiri. Di dalam cerita rekaan, berbagai peristiwa disajikan dengan urutan tertentu. Rangkaian peristiwa itu membangun tulang punggung cerita, yaitu alur.
         Ada pula yang mengumpamakan alur sebagai sangkutan, tempat menyangkutnya bagian-bagian cerita, sehingga terbentuklah suatu bangun yang utuh. Dalam fungsinya yang demikian dapat dibedakan peristiwa-peristiwa utama yang membentuk alur utama, dan peristiwa-peristiwa pelengkap yang membentuk alur bawahan atau pengisi jarak antara dua peristiwa utama.
         Peristiwa yang dialami tokoh disusun sedemikian rupa menjadi sebuah cerita, tetapi tidak berarti semua kejadian dalam hidup tokoh ditampilkan secara lengkap. Peristiwa-peristiwa yang dijalin tersebut sudah dipilih dengan memperhatikan kepentingannya dalam membangun alur. Peristiwa yang tidak bermakna khas (signifikan) ditinggalkan, sehingga sesungguhnya pengaluran selalu memperhatikan hubungan kausalitas/sebab-akibat Forster (1955 : 86) mengatakan, “We have defined as a narrative of events arranged in their time-sequence. A plot is also a narrative of events, the emphasis falling on causality. The time-sequence is preserved, but the sense of causality overshadows it.”
         Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan definisi alur adalah :

Pengaturan urutan peristiwa pembentuk cerita yang menunjukkan adanya
hubungan kausalitas.


         Memang, hubungan kausalitas ini tidak selalu segera tampak dalam sebuah novel yang tersusun rapi karena kadang-kadang tersembunyi di balik peristiwa yang meloncat-loncat, atau di dalam ucapan maupun perilaku tokoh-tokohnya. Walaupun begitu pembaca harus dapat menangkap hubungan kausalitas tersebut. Untuk itu pengarang yang baik hanya menampilkan lakuan dan cakapan yang bermakna bagi hubungan keseluruhan alur, sebab jika banyak digresi (lanturan) dapat mengalihkan perhatian pembaca dari peristiwa utama ke peristiwa pelengkap. 
3.1    Unsur-Unsur Alur :
  v Awal             :          
-          Paparan (exposition) à Pengarang menyampaikan informasi sekedarnya kepada pembaca, misalnya memperkenalkan tokoh cerita, keadaannya, tempat tinggalnya, pekerjaannya, maupun kebiasaan-kebiasaannya.
      Fungsi paparan untuk memberikan informasi kepada pembaca agar dapat mengikuti kisahan selanjutnya dengan mudah. Harus diingat bahwa situasi yang digambarkan pada bagian awal alur, hendaknya membuka kemungkinan bagi pengembangan cerita dan memancing rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan cerita.

-          Rangsangan (inciting moment)  à Peristiwa yang mengawali timbulnya gawatan, misalnya dengan kemunculan seorang tokoh baru yang berlaku sebagai katalisator, atau suatu kejadian yang merusak keadaan yang pada mulanya selaras (Sudjiman, 1986 : 39).
-     Gawatan (rising action) à Munculnya masalah antara tokoh utama dengan sesuatu (bisa masalah dengan tokoh lain, diri sendiri, nilai-nilai, lingkungan, dan lain-lain) sebagai kelanjutan dari bagian rangsangan.
  
v    Tengah         :
-          Tikaian (conflict) à Perkembangan masalah menjadi pertikaian/perselisihan antara dua kekuatan yang bertentangan.
      -    Rumitan (complication) à Perselisihan yang semakin meruncing.
      -    Klimaks à Perselisihan/rumitan yang mencapai puncaknya.

v Akhir :
      -    Leraian (falling action) à Perkembangan peristiwa ke arah selesaian. Di sini
            nampak titik terang pemecahan masalah, yaitu perselisihan yang tadinya 
            sudah mencapai titik gawat, berangsur-angsur surut dan nampak ada jalan
      keluarnya. Dalam hal ini ada kalanya diturunkan deus ex machina, yaitu orang atau barang yang muncul tiba-tiba dan memberikan pemecahan (Sudjiman 1986 : 19)
-    Selesaian (denouement) à Bagian akhir atau penutup cerita. Selesaian bisa
      melegakan (happy ending), bisa menyedihkan (unhappy end/sad ending),
      bisa pula menggantung tanpa pemecahan.

Unsur-unsur alur tersebut dikemas sedemikian rupa oleh pengarang, sehingga cerita yang dikemukakan mempengaruhi perasaan pembaca. Untuk itu pengarang selalu memasukkan aspek tegangan/suspence (ketidakpastian yang kian menjadi-jadi), regangan/toppings (proses penambahan ketegangan emosional), dan susutan/
droppings (proses pengurangan ketegangan emosional). Sarana yang digunakan untuk menciptakan tegangan antara lain :
-    Dengan teknik sorot balik/alih balik, yaitu jika urutan kronologis suatu cerita disela dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya (Sudjiman, 1986 : 3). Sorot balik ini bisa berupa lamunan si tokoh yang mengingat masa lalu, bisa pula dalam bentuk mimpi, maupun dialog antar tokoh.

-  Dengan teknik padahan/foreshadowing, yaitu pengarang memasukkan butir-butir cerita yang memberi bayangan akan terjadinya sesuatu, sehingga seolah-olah mempersiapkan peristiwa yang akan datang.
  
3.2    Cara Penyajian Alur :
v Linear à Peristiwa-peristiwa dalam cerita yang disampaikan secara berurutan/ kronologis.
-    Ab ovo/alur maju/alur lurus  : Cerita diawali dengan peristiwa pertama dalam urutan waktu terjadinya, yaitu pengarang memaparkan keberadaan tokoh utamanya lebih dahulu sebelum tokoh tersebut berlakuan (misalnya pada ‘Hikayat Hang Tuah’).

-    In medias res/alur mundur/alur flash back : Sejak awal cerita, para tokoh sudah langsung berlakuan. Keberadaan si tokoh dipaparkan secara bertahap, baik dalam peristiwa pertama maupun peristiwa lanjutan (misalnya pada ‘Belenggu’).
Cerita rekaan yang diawali dengan in medias res biasanya menggunakan sejumlah sorot balik.
   
v Gabungan à Alur maju dan mundur yang digunakan secara bersama-sama dalam sebuah cerita.

4. Karakterisasi/Perwatakan
         Karakterisasi/perwatakan adalah cara pengarang menggambarkan watak/sifat tokoh cerita. Ada dua macam karakterisasi, yaitu secara langsung dan tak langsung. Disebut karakterisasi langsung apabila pengarang secara langsung menyebutkan watak tokoh-tokoh cerita, misalnya : Rini adalah seorang gadis yang amat sombong.
         Dari contoh di atas nampak bahwa penulis menyebutkan watak tokoh Rini secara langsung. Ini berbeda dengan karakterisasi tak langsung yang menggambarkan watak tokoh melalui pendeskripsian tingkah laku dan pemikiran-pemikiran si tokoh. Contoh : Sejak pindah di sekolah itu Rini tak pernah bergaul dengan kawan-kawannya. Bagi Rini, siswa-siswi di sekolah barunya kurang ‘level’. 
         Pada masa lampau, pengarang biasanya menggambarkan watak tokoh cerita secara statis, tidak berubah dari awal hingga akhir cerita. Tokoh yang jahat (Datuk Maringgih dalam “Siti Nurbaya” misalnya), tak pernah bertobat dan tak pernah menjadi baik. Sebaliknya tokoh yang baik digambarkan sangat sempurna dari awal hingga cerita selesai. Karakterisasi seperti ini disebut perwatakan tetap (the flat character).
         Dewasa ini nampaknya pengarang lebih objektif. Watak tokoh cerita digambarkan sangat manusiawi dan bisa berubah. Tokoh yang baik suatu ketika dapat berubah menjadi jahat, demikian pula sebaliknya. Karakterisasi demikian disebut perwatakan bulat (the around character).
         Sehubungan dengan pokok bahasan ini ada baiknya dibicarakan pula pengertian tokoh protagonis, antagonis, confidant, dan figuran.
Protagonis       :  Tokoh utama cerita yang berperan sebagai penggerak cerita. Tokoh inilah yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat dalam kesuliatan. Biasanya pembaca berempati pada tokoh ini.
                          
Antagonis        :  Tokoh utama yang berperan sebagai penghalang tokoh protagonis. Tokoh ini merupakan lawan protagonis, sehingga karakternya bisa jadi membuat pembaca jengkel.

Confidant        :  Tokoh confidant mempunyai peran sebagai tokoh pembantu yang menjadi kepercayaan protagonis dan atau antagonis. Lewat tokoh ini pembaca dapat mengenal watak dan niat-niat tokoh utama dengan lebih baik.
                          
Figuran            :  Tokoh tambahan yang perannya tidak penting bagi keutuhan tema  cerita. Figuran dihadirkan untuk menciptakan suasana agar cerita lebih hidup. (Tokoh ini lebih sering muncul dalam drama atau film daripada dalam cerpen, novel, maupun roman). 
  
5.        Setting/Latar
         Yang dimaksud latar/setting adalah waktu, tempat, dan suasana yang terdapat dalam cerita, misalnya :
         v zaman penjajahan, masa resesi ekonomi, suatu malam, tahun 2000, dan lain-lain (setting waktu)
         v di rumah, di kebun, di medan perang, di Indonesia, di stasiun, dan 
               lain-lain (setting tempat)
         v mengharukan, sedih, mencekam, penuh kegembiraan, mengerikan,
               dan sebagainya (setting suasana)

6.        Point of View/Sudut Pandang Cerita
         Point of view menyangkut teknik penceritaan, yaitu melalui tokoh siapa pengarang mengisahkan ceritanya. Pengarang dapat bercerita melalui tokoh ‘aku’/’saya’, dapat pula memakai tokoh ‘dia’, ‘mereka’, atau seseorang dengan nama tertentu. Berdasarkan hal tersebut kita mengenal beberapa macam point of view.
6.1    Point of View Orang Pertama
         Pengarang memakai tokoh ‘aku’ sebagai penutur cerita, sehingga seolah-olah kisah yang dituangkan adalah pengalaman hidupnya sendiri. Tidak jarang pembaca salah duga dan menganggap tokoh ‘aku’ dalam cerita sebagai gambararan pribadi pengarang. Tentu saja ini menyesatkan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
         Point of view jenis ini terbagi dua, yaitu orang pertama mayor dan orang pertama minor.  Sudut pandang orang pertama mayor adalah cerita dengan tokoh utama ‘aku’ atau ‘saya’; sedangkan sudut pandang orang pertama minor, tokoh utamanya orang ketiga (‘dia’, ‘ia’ atau nama orang). Cerita dengan sudut pandang ini menghadirkan tokoh ‘aku’ atau ‘saya’ hanya sebagai penutur kisah yang menceritakan kehidupan tokoh utama.
6.2      Point of View Orang Ketiga
         Tokoh utama cerita dengan point of view ini adalah ‘dia’, ‘ia’, atau seseorang dengan nama tertentu. Di sini pengarang bisa bertindak sebagai yang mahatahu (omniscient point of view), bisa pula mendudukkan diri di luar cerita (objective point of view).    
         Pada cerita dengan sudut pandang omniscient, pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya. Ia bisa mengemukakan perasaan, kesadaran, dan jalan pikiran pelaku cerita. Pengarang juga bisa mengomentari kelakuan para tokoh cerita, bahkan bisa bicara langsung dengan pembacanya. Karya sastra lama umumnya menggunakan teknik point of view ini.
         Contoh   :
         Sejak peristiwa itu hatinya sangat sedih, bahkan sudah mendekati rasa putus asa. Jika tidak takut mati, ia pasti sudah bunuh diri. Sebenarnya ia berharap Amel mau mengerti dan memberinya support, tapi yang terjadi Amel malah meninggalkannya.
         Pada cerita dengan objective point of view, pengarang semata-mata menyuguhkan “pandangan mata”. Ia hanya menceritakan yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan dan pendengaran saja. Hal-hal yang tidak dapat dilihat dan didengar, misalnya jalan pikiran tokoh, keinginannya, suara hatinya, ataupun perasaannya tidak diungkapkan.
         Contoh :
         Tak henti-hentinya ia menangis. Sesekali ia mengepalkan tangan, memukul-mukul dada sendiri, dan sesekali berikutnya ia menjerit histeris sambil menarik-narik rambutnya. Tiba-tiba ia menghampiri sekaleng obat serangga. Ia mengangkat kaleng itu sambil memejamkan mata, lalu menempelkannya di bibir. Air mata makin deras mengalir dan dadanya terguncang-guncang oleh isak tangis. Setelah beberapa saat, tiba-tiba… diletakkannya kembali kaleng obat serangga itu.


 

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar