Lomba Menulis Cerber Majalah Femina 2013

LOMBA MENULIS CERBER TERBARU JANUARI 2013 DARI MAJALAH FEMINA

Bagi sobat yang menggemari Cerita Bersambung (Cerber), kini saatnya sobat ditantang untuk mengeluarkan segala kemampuan dalam acara Lomba Menulis Cerber Terbaru Januari 2013 dari Majalah Femina. Setelah sukses dengan lomba menulis cerpen yang akan berakhir bulan ini, Femina berharap bisa menghadirkan para penulis hebat tentang cerber dan menggali potensi penulis cerber di Indonesia. Untuk lebih jelasnya mengenai lomba menulis cerber ini, sobat bisa lihat syarat dan ketentuan di bawah ini :

Note ;
Bagi siswa/i SMAN 1 Tarakan yang berniat mengikuti perlombaan ini, silahkan menghubungi Bapak Ade Kuswara, S. Pd. untuk mendapatkan format/formulir pendaftaran perlombaan tersebut .

 

Adapun Syarat Umum Peserta: 
  1. Peserta warga negara Indonesia.
  2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan ejaan yang disempurnakan.
  3. Naskah harus karya asli (sebagian atau seluruhnya) bukan terjemahan atau saduran.
  4. Dibuktikan dengan pernyataan surat pernyataan bertanda tangan diatas materai (formulir terlampir).
  5. Naskah BELUM PERNAH dipublikasikan di media cetak, elektronik dan online dan tidak sedang diikutsertakan sayembara lain.
  6. Tema bebas, tapi sesuai dengan majalah femina.
  7. Peserta hanya boleh mengirim maksimal 2 naskah terbaiknya.
  8. Hak untuk menyiarkannya di media online ada pada PT. Gaya Favorit Press.
  9. Redaksi berhak merubah judul dan menyunting, tanpa mengubah isi.
  10. Naskah yang tidak menang tapi memenuhi syarat, akan dimuat di majalah femina. Penulis akan mendapat honor sesuai dengan standar femina.
  11. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat.
  12. Lomba ini tertutup untuk karyawan femina group.
  13. Naskah dikirim ke redaksi femina Jl. HR. Rasuna Said Kav B Blok 32 - 33, Kuningan, Jakarta Selatan, 12910.

Syarat Khusus : 
  1. Diketik dengan komputer di atas kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi, font arial dengan ukuran 12.
  2. Panjang naskah antara 40 - 50 halaman.
  3. Dijilid dan dikirim sebanyak 2 (dua) rangkap, disertai 1 (satu) CD berisi naskah.
  4. Naskah dilampiri formulir asli, fotokopi KTP, surat pernyataan bermaterai, dan sinopsis cerita.
  5. Pada amplop kiri atas ditulis: Sayembara Mengarang Cerber Femina 2013.
  6. Naskah ditunggu selambat-lambatnya 31 Januari 2013.
  7. Pemenang akan diumumkan di majalah femina terbit akhir Mei 2013.

HADIAH PEMENANG :
  • Juara I   : 15.000.000,-
  • Juara II  : 9.000.000,-
  • Juara III : 7.000.000,-
Demikian sekilas info tentang Lomba Menulis Cerber Terbaru Januari 2013 dari Majalah Femina, semoga bermanfaat buat sobat semua. hadirkan jiwa kompetisi dan keluarkan potensimu untuk ikut serta dalam lomba menulis cerber ini. Besar harapan kita bersama, akan hadir para penulis cerber berkualitas internasional dari negeri kita tercinta... Go Contest...

Prediksi Soal UN Bahasa Indonesia Tahun 2013

Prediksi Soal UN Bahasa Indonesia untuk jenjang SMA dan pembahasannya ini saya dapatkan dari blognya Pak Anang. Beliau adalah seorang guru matematika di sebuah sekolah menengah atas di Jawa. Di blognya telah banyak pembahasan mengenai prediksi UN 2013 dan pembahasannya, mulai dari Pembahasan untuk Prediksi SOAL UN SMP juga untuk semua mata pelajaran SMA. Bagi adik-adik yang ingin langsung menuju ke blognya, silakan langsung ke :  http://pak-anang.blogspot.com
Prediksi Soal UN Bahasa Indonesia SMA 2013 dan Pembahasannya
Baiklah, untuk memudahkan download Prediksi UN Bahasa Indonesia SMA 2013 beserta dengan pembahasannya, saya telah meng-copy paste ebook yang berisi latihan-latihan ujian nasional untuk siswa SMA. Saya yakin dengan belajar lebih banyak mengenai soal-soal ujian nasional nantinya akan mempermudah adik-adik dalam menjawab soal yang diujikan. Jangan lupa, jumlah paket yang dipersiapkan oleh pemerintah dalam pelaksanaan Ujian Nasional 2013 ini adalah 20 paket. So, itu artinya setiap siswa akan memiliki paket soal dan butir-butir soal yang berbeda dengan teman lainnya di dalam kelas. Hadeh ... Ndak bisa nyontek dong. Haha ...
Ini dia link-link yang bisa kalian klik untuk mendapatkan prediksi UN Bahasa Indonesia SMA/MA. Langsung saja klik pada linknya, kemudian pilih SAVE.
Oke, demikianlah apa yang dapat saya sajikan. Jangan lupa untuk terus berdoa sambil berusaha, semoga semuanya dilancarkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, hingga adik-adik dapat lulus dalam UN 2013 ini dengan hasil yang memuaskan. Jika sudah lulus nanti, jangan lupa untuk menuliskan kesan dan pesan kamu di sini ya. Salam hangat selalu.

MENENTUKAN UNSUR DAN ISI PUISI


A. Mengidentifikasi Unsur-Unsur Puisi
Unsur-unsur instrinsik puisi meliputi tema, amanat, setting atau latar, nada dan suasana, point of view (pusat pengisahan), majas, sajak,rima, dan pesan. Unsur ekstrinsik sebuah puisi meliputi unsur-unsur dari luar yang mempengaruhi isi karya sastra, seperti unsur psikologi, sosial, agama, sejarah, filsafat, ideology, maupun politik.
Rima adalah pola persajakan atau perulangan bunyi dalam tiap akhir larik puisi. Jenis-jenis rima secara umum adalah:
1.      Rima Rangkai      : a-a-a-a
2.      Rima Kembar      : a-a-b-b
3.      Rima Silang         : a-b-a-b
4.      Rima Peluk          : a-b-b-a
5.      Rima Patah          : a-b-a-a, a-a-b-a, a-a-a-b
6.      Rima Bebas         : a-b-c-d
Majas merupakan gaya bahasa yang sering digunakan dalam membangun sebuah puisi. Berikut ini merupakan macam-macam majas yang sering digunakan dalam puisi.
  1. Hiperbola merupakan haya bahasa yang mengandung makna berlebih-lebihan atau mebesar-besarkan sesuatu. Hal ini betujuan untuk member penekanan pada suatu pernyataan atau situasi, memperhebat, atau meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
  2. Personifikasi atau penginsanan merupakan gaya bahasa yang menggunakan sifat-sifat insani untuk benda atau barang yang tidak bernyawa.
  3. Perumpamaan merupakan perbandingan dua hal yang sebenarnya berlainan, tetapi sengaja dianggap sama. Perbandingan ini secara eksplisif menggunakan kata seperti, bagai, ibarat, umpama, bak, dan laksana.
  4. Metonimia merupakan gaya bahasa menggunakan nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan segala sesuatu sebagai pengganti.
  5. Litotes adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, dengan tujuan untuk merendahkan diri.
  6. Metafora adalah perbandingan yang implisit, tanpa kata pembanding seperti, atau bagai diantara dua hal yang berbeda.
  7. Pleonasme adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata mubazir.
  8. Ironi adalah bahasa yang berupa sindiran halus berupa pernyataan yang maknanya bertentangan dengan makna sebenarnya.
B.       Mengungkapkan Isi atau Makna Puisi
Memahami puisi tentu sangat berbeda dengan memahami prosa. Dalam mengapresiasi isi puisi Anda perlu memahami beberapa unsur. Unsur-unsur yang perlu Anda pahami yaitu makna, tema, dan pesan dalam puisi. Unsur-unsur ini dapat Anda pahami seperti uaraian berikut.
1.    Arti atau Makna Puisi
Makna atau isi puisi dapat dipahami dengan baik jika Anda mengerti akta-kata yang terkandung dalam puisi. Anda harus menafsirkan arti setiap kata dalam puisi. Kata-kata dalam puisi sering bermakna konotasi. Berikut ini beberapa langkah untuk memahami makna puisi.
a.    Menemukan kata kunci dalam setiap baris atau larik karena kata-kata tersebut merupakan inti baris tersebut.
Contoh:
Di Bukit
Karya : Mansur Samin
Berdiri di puncak karang tinggi.
menatap huma yang sudah runtuh
suasana tambah sukar kiranya kini
hidupmanusia telah pasrah pada haluan waktu.
Suling nelayan dari muara sana
makin asing membangkitkan kenangan lama
Jaring, pukat, dan gudang tinggal berbeda
pasar dan kesibukan telah berpindah ke muara utara
kini dan hari silam nasibmulah itu, desaku
hidup tak henti sengketa, selalu perang saudara.

Kata-kata atau pernyataan kunci dalam setiap sebagai berikut.
1)      Bait ke-1:
menatapi huma yang sudah runtuh = memandang lading yang gersang
suasana tambah sukar kiranya kini = hidup semakin susah
2)      Bait ke-2:
suling nelayan dari muara sana = para nelayan mencari ikan di laut
makin asing membangkit kenangan lama = mengingat kenangan lama
3)      Bait ke-3:
pasar dan kesibukan telah berpindah ke muara laut = kesibukan pasar ikan telah berubah sepi kini dan hari silam nasibmulah itu, desaku = suasana masa lalu tinggal
kenangan hidup tak henti sengketa, selalu perang saudara = hidup penuh persaingan dan perselisihan

b.    Menguraikan bait puisi ke dalam bentuk prosa atau paraprase.
Contoh:
Di Bukit
(Aku) Berdiri di puncak karang tinggi.
(Aku) menatap huma yang sudah runtuh (gersang)
(Saat itu) suasana (kehidupan) (ber)tambah sukar kiranya kini
(Ke)hidup(an) manusia telah (di)pasrah(kan) pada haluan (perjalanan) waktu.
(Tiba-tiba terdengar) Suling nelayan dari muara sana
(Suara itu se)makin asing (sehingga) membangkitkan kenangan lama
Jaring, pukat, dan gudang (sekarang) tinggal berbeda
(Suasana) pasar (ikan) dan kesibukan (pedangang) telah berpindah ke muara utara
kini dan hari silam nasibmulah (keadaannnya telah berubah) itu, (itulah keadaan) desaku (saat ini)
(Ke)hidup(an desa) tak henti (dari per)sengketa(an), selalu (terjadi) perang saudara.

c.         Menafsirkan makna kata
Contoh:
Kata sulit dalam puisi tersebut sebagai berikut.
1)   Bait ke-1 adalah huma yang sudah runtuh = padang yang telah gersang (tidak ada tumbuhan lagi). Kata haluan waktu = menunggu waktu.
2)   Bait ke-2 makin asing = biasa terdengar.
3)   Bait ke-3 hari silam =waktu yang lalu, perang saudara =saling berselisih.

d.      Mengaitkan isi puisi dengan kehidupan nyata.
Contoh:
Puisi tersebut menceritakan perubahan kehidupan desa sebagai desa nelayan yang dahulu kehidupannya aman, tenteram, dan kehidupan pasar ikan yang ramai. Karena kesuliatan hidup dan kemajuan zaman, suasana kehidupan desa nelanya tersebut berubah total. Persaingan hidup semakin keras. Bahkan, sering terjadi perselisihan karena mempertahankan hidup.

2.        Tema Puisi
Pada dasarnya tema atau topik puisi merupakan pokok permasalahan dalam puisi. Tema merupakan wujud permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Tema puisi ada bermacam-macam. Misalnya, tema keagamaan, kenegaraan,kehidupan alam, lingkungan hidup, kemanusiaan, kisah kehidupan manusia, perjuangan, atau kritik social.
Tema puisi bersifat khusus, berorientasi pada penyair, objektif atau semua pembaca harus mempunyai penafsiran yang sama, dan lugas atau tidak bermakna kias. Dengan demikian, pembaca puisi pun perlu memahami latar belakang penyair agar tidak salah menafsirkan tema puisi.
Contoh:
Tema puisi “Di Bukit” adalah keadaan dan suasana kehidupan desa yang sudah berubah, yaitu gersang, tidak rukun, dan hidup menjadi sulit.

3.        Pesan Puisi
Pesan atau amanat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Cara menyimpulkan amanat puisi berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal. Meskipun ditentukan berdasarkan cara pandang pembaca, amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi puisi yang dikemukakan penyair. Pembaca akan menemukan pesan atau amanat setelah membaca puisi.
Contoh:
Amanat dalam puisi “Di Bukit” adalah orang desa yang tidak mempedulikan orang lain dan tidak rukun untuk mempertahankan hidup yang semakin sulit.
Anda perlu tahu, ada beberapa jenis puisi baru yang harus diketahui. Menurut isinya, puisi baru dibedakan menjadi tujuh jenis.
1.      Balada
Balada merupakan puisi yang berisi kisah atau cerita.
2.        Himne
Himne merupakan puisi yang berisi pujian untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
3.        Ode
Ode merupakan puisi yang berisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
4.        Epigram
Epigram merupakan puisi yang berisi tuntutan atau ajaran hidup.
5.        Romance
Romance merupakan puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
6.        Elegi
Elegi merupakan puisi yang berisi ratapan tangis atau kesedihan.
7.        Satire
Satire merupakan puisi yang berisi sindiran atau kritikan.

4.      Parafrase Puisi
Yang dimaksud parafrase adalah mengubah puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut. Lebih mudahnya parafrase puisi adalah memprosakan puisi. Perlu diketahui bahwa parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra. Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami puisi. Ada dua metode parafrase puisi, yaitu   
  • Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut. 
  • Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.

Contoh:
Perhatikan puisi Chairil Anwar berikut ini
HAMPA :kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti. Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Dengan teknik parafrase, puisi ini kita tambah beberapa kata agar lebih mudah dipahami.
Bentuk parafrase puisi :
HAMPA :kepada Sri
(keadaan amat) Sepi di luar (sana).
(Keadaan) Sepi (itu) menekan-(dan) mendesak.
Lurus kaku pohon(-pohon)an (disana).
(pohonan itu) Tak bergerak
Sampai ke puncak (nya). Sepi (itu) memagut(ku),
Tak satu kuasa (pun dapat) melepas-(dan me)renggut(nya dariku)
Segala(nya hanya) menanti. Menanti. (dan) Menanti (lagi).(menanti dalam) Sepi.
(di) Tambah (lagi dengan keadaan saat) ini (,) menanti jadi mencekik (malah)
Memberat(kan dan)-mencekung (kan) punda (kku)
Sampai binasa segala(-galanya). (itu pun) Belum apa-apa
(bahkan) Udara (pun telah) bertuba. Setan (pun) bertempik (sorak)
Ini (,) (peraan) sepi (ini) terus (saja) ada. Dan (aku masih tetap) menanti.


Teknik parafrase ini hanya diperlukan bagi puisi-puisi yang sangat minim kata-katanya. Bila suatu puisi telah tersusun kata-kata yang mudah dipahami, maka tidak diperlukan lagi membuat parafrase.

MENANGGAPI ISI BERITA


 aktivitas membaca untuk menanggapi suatu bahan bacaan

Kita dapat memperoleh berbagai macam informasi dan pengetahuan dari membaca berita.informasi tersebut dapat menambah wawasan. Oleh karena itu, kita pelu memahami prinsip-prinsip berita dalam arti ini adalah menyimak berita dengan baik. Adapun tahapan-tahapan menyimak informasi (berita) adalah:
  1. Mendengar
  2.  Memahami
  3. Menginterpretasi
  4. Mengevaluasi
  5. Menanggapi
Pokok-pokok isi suatu berita menyangkut hal berikut:
  1. Tema atau nama peristiwa yang terdapat di dalam berita tersebut.
  2. Orang atau pelaku yang mengalami atau berperan dalam berita tersebut.
  3. Waktu yang berkaitan dengan saat terjadinya peristiwa dalam berita tersebut.
  4. Tempat terjadinya peristiwa dalam berita tersebut.
  5.  Penyebab terjadinya peristiwa dalam berita tersebut
  6. Urutan terjadinya peristiwa dalam berita tersebut.
Setelah menentukan pokok-pokok isi berita, Anda dapat menanggapi isi berita yang Anda dengarkan. Tanggapan adalah sambutan terhadap hal, peristiwa, masalah, ucapan, pendapat, atau gagasan yang berupa kritik, komentar atau yang lain. Tanggapan dapat berupa pernyataan setuju, tidak setuju, suka, tidak suka, atau menambahkan pendapat. Tanggapan yang dikeluarkan harus bersifat objektif dan disertai dengan alasan yang logis. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mengemukakan tanggapan. Cara mengemukakan tanggapan adalah sebagai berikut:
a.       Tanggapan berhubungan dengan masalah yang sedang dibicarakan
b.      Tanggapan dapat mempercepat pemahaman masalah
c.       Tanggapan tidak mengulangi pendapat yang pernah disampaikan peserta lain
d.      Tanggapan disampaikan dengan kata atau kalimat yang tepat
e.       Tanggapan disampaikan dengan sikap terbuka dan sopan
 
A.    Pokok-Pokok Isi Berita (5W + 1H)
Berita yang baik harus dapat menjelaskan beberapa hal berikut ini:
  • Dapat menjelaskan peristiwa atau kejadian apa yang terjadi
  •  Dapat menjelaskan penyebab atau alasan peristiwa atau kejadian tersebut terjadi
  •  Dapat menjelaskan pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut
  • Dapat menjelaskan tempat terjadinya peristiwa atau kejadian tersebut
  • Dapat menjelaskan waktu atau saat terjadinya peristiwa atau kejadian tersebut
  • Dapat menjelaskan bagaimana peristiwa atau kejadian tersebut terjadi
B.     Jenis Kalimat (Berita, Tanya, Perintah)
Berdasarkan isinya, kalimat dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, antara lain: Kalimat berita adalah kalimat yang menginformasikan suatu hal. Kalimat berita diakhiri tkamu titik. Fia memberikan hadiah kepada Hafshah. Kalimat tanya adalah kalimat yang menanyakan suatu hal. Kalimat tanya diakhiri kata tanya. Siapa yang memberikan hadiah? Kalimat perintah adalah kalimat yang memerintahkan, menginstruksikan, meminta suatu hal. Kalimat tanya diakhiri tanda seru. Fia, tolong berikan hadiah ini kepada Hafshah!
Tanggapan adalah ulasan atau tanggapan atas berita, pidato, dsb untuk menerangkan atau menjelaskan (KBBI, 1999: 515). Tanggapan juga dimaknai sebagai Written or spoken statement wich gives an opinion on or explains something/ somebody. (Oxford, 2005: 119) yaitu bentuk pernyataan lisan atau tulisan untuk memberikan pendapat atau penjelasan tentang sesuatu/ seseorang.
Menanggapi berarti memberi pendapat atau komentar terhadap uatu hal. Pendapat tersebut dapat berisi penyataan dukungan atau persetujuan, atau pernyataan negative berupa sanggahan dan kritikan. Hal yang paling penting bahwa tanggapan yang diajukan atau yang diberikan haruslah sesuai dengan topic.
Jadi, dari pengertian di atas kita dapat mengetahui bahwa fungsi tanggapan adalah untuk menerangkan atau menjelaskan.

C.    Ciri-Ciri Tanggapan (Secara Umum)
  1. Merupakan pernyataan
  2. Berbentuk lisan atau tulisan
  3. Bertujuan untuk menanggapi atau menjelaskan atas suatu hal yang sebelumnya disampaikan/ dilakukan pihak lain.
D.    Indikator Tanggapan yang Baik
  • Sesuai dengan topik yang dibahas
  • Bersifat objektif, logis
  •  Mengandung saran, solusi, atau penyelesaian terhadap topik yang dibahas.
  • Tanggapan disampaikan dengan bahasa dan sikap (jika tanggapannya berbentuk lisan) yang santun
  • Tanggapan yang disampaikan dengan menyertakan alasan yang relevan dan seperlunya
  • Tanggapan yang disampaikan tidak berlebihan
  • Tanggapan yang disampaikan tidak bertujuan merendahkan atau memojokkan pihak lain
Contoh:
Teks Berita
Pendengar yang budiman, berikut kami sampaikan berita aktual pagi ini.
Sebagai reaksi atas kenaikan harga bahan bakar minyak, hari ini di Medan, para pengemudi angkot (angkutan kota) melakukan aksi mogok. Sejak pagi, para pengemudi angkot memenuhi ruas jalan. Mereka melakukan aksi mogok di sejumlah ruas jalan, mereka melakukan aksi mogok total sebagai upaya mengingatkan pemerintah kota agar menaikkan tariff angkot akibat kenaikan harga minyak per 1 Oktober lalu.
(Radio Elshinta, Senin, 3 Oktober 2005, Pukul 07.50 WIB)

Topik Berita     : para pengemudi angkot (angkutan kota) melakukan aksi mogok
Jadi tanggapannya dapat berupa pernyataan Pemerintah seharusnya memberikan kebijakan yang adil bagi semua pihak.

Contoh:
Non Berita
Kurangnya kesadaran para remaja dalam mencintai lingkungan dapat dilihat dari sikap apatis mereka. Dimana-mana kita lihat coretan-coretan yang mereka torehkan di tembok-tembok pagar, dinding rumah, dinding sekolah, jembatan, papan nama, bahkan bamboo jalan raya. Selain itu, mereka kurang peduli dalam menciptakan lingkungan bebas dari sampah, padahal mereka sudah dihimbau dan diberikan penyuluhan, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal mereka.

Topik   : Kesadaran remaja dalam mencintai lingkungan sangat kurang
Jadi, tanggapannya dapat berupa Hendaknya kita tetap berupaya untuk mengajak, membimbing, dan menumbuhkan kesadaran para remaja untuk menghargai lingkungan (berupa penyelesaian masalah)

ARGUMENTASI VS PERSUASIF

Note:
Ini adalah bentuk contoh cara pengerjaan tugas karangan argumentasi dan karangan persuasif. Tugas ini merupakan contoh tugas dari siswi yang bernama Nurfadilah ( X-D ). Tugas ini tidak boleh di copy paste untuk dikumpulkan kembali menjadi bahan tugas yang telah diberikan, namun tugas ini hanya berupa refensi contoh. Jika ada yang mau ditanyakan, silahkan hubungi nomor handphone bapak Ade Kuswara, S. Pd. Terimakasih.

KARANGAN ARGUMENTASI 

VS 

KARANGAN PERSUASIF

1. Contoh Tugas Karangan Arguentasi 
Sumber Referensi Berita

Contoh Tugas Argumentasi Part I

Contoh Tugas Argumentasi Part II (Final)


2. Contoh Tugas Karangan Persuasif
Contoh Tugas Karangan Persuasif (Final)

Note Karangan Persuasif :
Bentuk iklan yang diamati untuk penugasan karangan persuasif boleh dalam dalam bentuk wacana tertulis (iklan tulisan) ataupun iklan tindak tutur (iklan percakapan)


Cerita Rakyat Sumber Budaya Bangsa Indonesia


Karikatur Gambar Cerita Rakyat Malin Kundang

               Cerita rakyat merupakan tradisi lisan, Indonesia adalah negara yang kaya akan nilai – nilai budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun temurun. Tradisi lisan mengungkapkan kejadian atau peristiwa yang mengandung nilai moral, keagamaan, adat istiadat, fantasi, peribahasa, nyanyian dan mantra. Cerita rakyat yang sarat akan nilai – nilai moral dan kearifan lokal yang bisa menjadi sarana komunikasi untuk mengajarkan nilai- nilai tentang kehidupan kepada anak- anak. 
               Cerita rakyat dalam kajian ilmu folklore, cerita rakyat atau dalam pengertian besar folklor dijelaskan William R. Bascom (dalam Danandjaja, 1984) dibagi dalam 3 golongan besar yaitu ; mitos, legenda, dan dongeng. Sejak dahulu hingga saat ini cerita rakyat yang ada dan berkembang di masyarakat adalah cerita yang diwariskan secara turun temurun dari generasi sebelumnya, maka tidak menutup kemungkinan apabila suatu kejadian ataupun kisah yang dialami pada saat ini, diceritakan kembali secara berulang-ulang telah menjadi bagian yang tak bisa terpisahkan dari sekelompok masyarakat, sehingga menjadi cerita rakyat di masa yang akan datang. 
               Di dalam cerita rakyat dari berbagai daerah terdapat kesamaan pada kesatuan-kesatuan cerita (tale types) atau unsur-unsur kesatuan cerita (tale motifs). Peran penting cerita rakyat terletak pada kemampuannya mengkomunikasikan tradisi, pengetahuan, serta adat istiadat, atau menguraikan pengalaman-pengalaman manusia baik dalam dimensi perseorangan maupun dimensi sosial. Hal ini dapat membuat seseorang dapat mengenal dan mempelajari kebudayaan lain yang berada disekitarnya. Hingga saat ini, cerita rakyat menghadapi tantangan untuk tetap tumbuh dan berkembang di masyarakat, serta beberapa tantangan untuk berinovasi terutama dalam cara penyajian untuk bersaing dengan cerita-cerita fiksi dari luar negeri. Selain itu tantangan tersebut juga datang dari derasnya arus informasi yang membuat persaingan cerita rakyat yang ada di Indonesia dengan cerita luar negeri menjadi begitu ketat, banyak pula orangtua yang telah meninggalkan budaya untuk menceritakan dongeng sebelum tidur yang sarat akan muatan lokal dan nilai-nilai luhur dengan alasan sibuk, hal ini tanpa disadari sedikit demi sedikit telah membuat anak-anak lupa akan tokoh-tokoh cerita dari budaya yang dekat dengan mereka. 
            Cerita rakyat adalah gambaran otentitas masyarakat yang mencerminkan perilaku dan budaya masyarakat setempat. Cerita rakyat yang merupakan bagian dari budaya Indonesia yang harus tetap dilestarikan, tentunya dengan penyesuaian dengan budaya terkini terutama dalam cara penyampaian agar bisa tetap diminati oleh anak-anak Indonesia sebagai sarana pembelajaran budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. Penyampaian cerita rakyat sesuai fungsinya haruslah dibarengi dengan penekanan – penekanan tertentu, hal ini menjadi perlu dilakukan agar kandungan nilai moral yang ada dalam cerita rakyat dapat ditangkap oleh anak sehingga tidak hanya menjadi hiburan semata namun juga sebagai sarana pembelajaran untuk mengenal budaya setempat tempat mereka tinggal, tentunya dengan memilah – milah cerita mana yang sesuai dengan usia sang anak. 
               Beragam cerita dari luar negeri dapat dengan cepat diakses, hal itu patut juga dikenalkan kepada anak agar mereka tahu keragaman budaya terutama yang ada diluar ruang lingkup mereka, maka dari itu sangatlah penting membentuk pondasi tentang nilai-nilai kebudayaan terhadap anak-anak Indonesia agar mereka tidak lupa akan kebudayaan yang mereka miliki, khususnya budaya lisan melalui cerita rakyat. Dimulai dengan ruang lingkup terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga, bagi anak-anak mendengarkan dongeng atau cerita yang diceritakan oleh orang tuanya dapat menjadi petualangan imajinasi yang sangat seru, mengingat dunia imajinasi anak yang sangat luas. Selain sebagai sarana untuk mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak, interaksi dalam bercerita juga bisa menjadi sarana pelajaran untuk menyampaikan nilai-nilai moral kepada anak tanpa terkesan menggurui, yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi yang mendengar. 
               Dalam budaya teks dan budaya audio visual yang modern dan canggih, Tradisi lisan pada saat ini menghadapi tantangan untuk melakukan inovasi dan kreasi terhadap cerita rakyat. Dengan era informasi yang sudah demikian berkembang seperti sekarang. Fakta bahwa banyak anak-anak lebih menggemari cerita dari komik atau film kartun jepang misalnya, menandakan bahwa cerita dari luar negeri begitu ekspansif. Keluarga ataupun orang tua haruslah menyadari pentingnya mengenalkan kembali cerita rakyat Indonesia kepada anak-anak mereka agar cerita rakyat Indonesia yang keberdaannya pada zaman modern ini tidak dianggap sebagai mitos lama, khayalan klise, atau dongeng yang ketinggalan zaman oleh anak-anak di zaman sekarang yang seleranya telah berubah dan lebih beragam karena arus informasi yang mereka terima begitu deras di era globalisasi saat ini.

Teknik Bermain Drama

TEKNIK BERMAIN DRAMA

Latihan Drama Teater

Memahami Teknik Bermain Drama
        Teknik bermain (akting) merupakan unsur penting dalam seni peran. Berikut ini hal-hal yang sangat mendasar berkaitan dengan teknik bermain drama.
1. Teknik Muncul
  • Teknik muncul adalah cara seorang pemain tampil pertama kali ke pentas yaitu saat masuk ke panggung telah ada tokoh lain, atau ia masuk bersama tokoh lain. Tentu, setelah muncul, pemain harus menyesuaikan diri dengan suasana perasaan adegan yang sudah tercipta di atas pentas. Kehadiran seorang tokoh harus mendukung perkembangan alur, suasana, dan perwatakan yang sudah tercipta atau dibangun.
2. Teknik Memberi Isi
  • Kalimat ”Engkau harus pergi!” mempunyai banyak nuansa. Ucapan tulus mengungkap keikhlasan atau simpati, sedangkan ucapan kejengkelan atau kemarahan tentu bernada lain. Nuansa tercipta melalui tekanan ucapan yang telah dijelaskan di muka (tekanan dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo).
3. Teknik Pengembangan
  • Teknik pengembangan berkait dengan daya kreativitas pemeran, sutradara, dan bagian estetis. Dengan pengembangan, sebuah naskah akan menjadi tontonan memikat. Bagi pemain, pengembangan dapat ditempuh dengan beberapa cara, diantaranya:
  1. Pengucapan 
  2. Gesture(1) Menaikkan posisi tubuh 
    Menaikkan posisi tubuh berarti ada gerakan baik dari menunduk-menengadah, tangan terkulai menjadi teracung, berbaring-duduk-berdiri, atau berdiri di lantai-kursi-meja.
    (2) Berpaling 
    Berpaling mempunyai arti yang spesifik dalam pengembangan dialog: tubuh atau kepala. Perhatikan dialog berikut ini dan tentukan pada bagian mana kita harus berpaling.
    Aku iri denganmu. Kadang-kadang aku berpikir untuk keluar saja, lalu buka bengkel juga. Tidak ada hierarki. Tidak ada rapat-rapat panjang.”
    (3) Berpindah tempat 
    Berpindah tempat dapat terjadi dari kiri-kanan, depan-belakang, bawah-atas. Tentu, harus ada alasan yang kuat mengapa harus berpindah 
    (4) Gerakan
    Gerakan anggota tubuh: melambai, ,mengembangkan jari-jari, mengepal, menghentakkan kaki, atau gerakan lain seturut dengan luapan emosi. Ada tiga kategori melakukan gerakan: a) gerakan dilakukan bersamaan dengan pengucapan kata, b) gerakan dilakukan sebelum kata diucapkan, c) gerakan dilakukan sesudah kata diucapkan.
    (5) Mimik
    Perubahan wajah atau mimik mencerminkan perkembangan emosi. Tanpa penghayatan dan penjiwaan tidak mungkinlah timbul dorongan dari dalam atau perasaan-perasaan. Justru perasaan inilah yang mendasari raut wajah.
      4. Menciptakan Peran
      • Tentu saja untuk menciptakan peran, pemain harus sadar bahwa ia sedang ”memerankan sebagai……..” Artinya, seluruh sifat, watak, emosi, pemikiran yang dihadirkan adalah sifat, watak, emosi, dan pemikiran ”tokoh yang diperankan”. Dengan demikian, seorang pemain harus berkemampuan menciptakan peran dalam sebuah pertunjukan.
      Hal-hal berikut dapat membantu untuk menciptakan peran:
      1. kumpulkan tindakan-tindakan pokok yang harus dilakukan oleh pemeran dalam pementasan
      2. kumpulkan sifat-sifat tokoh, termasuk sifat yang paling menonjol
      3. carilah ucapan atau dialog tokoh yang memperkuat karakternya
      4. ciptakan gerakan mimik atau gesture yang mampu mengekspresikan watak tokoh
      5. ciptakan intonasi yang sesuai dengan karakter tokoh
      6. rancanglah garis permainan tokoh untuk mlihat perubahan dan perkembangan karakter tokoh
      7. ciptakan blocking dan internalisasi dalam diri sehingga yang berperilaku adalah tokoh yang diperankan.

      KATA PENGHUBUNG

      KATA PENGHUBUNG 

      Kata penghubung adalah kata tugas yang menghubungkan antar klausa, antar kalimat, dan antar paragraf. Kata penghubung antar klausa biasanya terletak di tengah-tengah kalimat, sedangkan kata penghubung antar kalimat di awal kalimat (setelah tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya), dan kata penghubung antar paragraf letaknya di awal paragraf
      Macam-macam kata penghubung dan fungsinya :
      1. Kata Penghubung Aditif (gabungan)
      Kata Penghubung aditif (gabungan) adalah konjungsi koordinatif yang berfungsi menggabungkan dua kata, frasa, klausa, atau kalimat dalam kedudukan yang sederajat, misalnya : dan, lagi, lagi pula, dan serta.
      2. Kata Penghubung Pertentangan
      Kata penghubung pertentangan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat dengan mempententangkan kedua bagian tersebut. Biasanya bagian yang kedua menduduki posisi yang lebih penting daripada yang pertama, misalnya : tetapi, akan tetapi, melainkan, sebaliknya, sedangkan, padahal, dan namun.
      3. Kata Penghubung Disjungtif (pilihan)
      Kata penghubung pilihan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua unsur yang sederajat dengan memilih salah satu dari dua hal atau lebih, misalnya: atau, atau....atau, maupun, baik...baik..., dan entah...entah...
      4. Kata Penghubung Temporal (waktu)
      Kata penghubung temporal menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa. Kata-kata konjungsi temporal berikut ini menjelaskan hubungan yang tidak sederajat, misalnya : apabila, bila, bilamana, demi, hingga, ketika, sambil, sebelum, sampai, sedari, sejak, selama, semwnjak, sementara, seraya, waktu, setelah, sesudah, dan tatkala. Sementana konjungsi berikut ini menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat, misalnya sebelumnya dan sesudahnya.
      5. Kata Penghubung Final (tujuan)
      Konjungsi tujuan adalah semacam konjungsi modalitas yang menjelaskan maksud dan tujuan suatu penistiwa, atau tindakan. Kata-kata yang biasa dipakai untuk menyatakan hubungan ini adalah : supaya, guna, untuk, dan agar.
      6. Kata Penghubung Sebab (kausal)
      Konjungsi sebab menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi karena suatu sebab tertentu. Bila anak kalimat ditandai oleh konjungsi sebab, induk kalimat merupakan akibatnya. Kata-kata yang dipakai untuk menyatakan hubungan sebab adalah sebab, sebab itu, karena, dan karena itu.
      7. Kata Penghubung Akibat (konsekutif)
      Konjungsi akibat menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi akibat suatu hal yang lain. Dalam hal ini anak kalimat ditandai konjungsi yang menyatakan akibat, sedangkan peristiwanya dinyatakan dalam induk kalimat. Kata-kata yang dipakai untuk menandai konjungsi akibat adalah sehingga, sampai, dan akibatnya.
      8. Kata Penghubung Syarat (kondisional)
      Konjungsi syarat menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi bila syarat-syarat yang disebutkan itu dipenuhi. Kata­ kata yang menyatakan hubungan ini adalah jika, jikalau, apabila, asalkan, kalau, dan bilamana.
      9. Kata Penghubung Tak Bersyarat
      Kata penghubung tak bersyarat menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi tanpa perlu ada syarat-syarat yang dipenuhi. Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi ini adalah walaupun, meskipun, dan biarpun.
      10. Kata Penghubung Perbandingan
      Kata penghubung perbandingan berfungsi menghubung­kan dua hal dengan cara membandingkan kedua hal itu. Kata­ kata yang sering dipakai dalam konjungsi ini adalah sebagai, sebagaimana, seperti, bagai, bagaikan, seakan-akan, ibarat, umpama, dan daripada.
      11. Kata Penghubung Korelatif
      Konjungsi korelatif menghubungkan dua bagian kalimat yang mempunyai hubungan sedemikian rupa sehingga yang satu langsung mempenganuhi yang lain atau yang satu melengkapi yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kedua kalimat mempunyai hubungan timbal-balik. Kata-kata yang yang menyatakan konjungsi ini adalah semakin ….. . semakin, kian .. . kian...,bertambah ... bertambah . . , tidak hanya…….,tetapi juga..., sedemikian rupa..., sehingga..., baik..., dan maupun.
      12. Kata Penghubung Penegas (menguatkan atau intensifikasi)
      Konjungsi ini berfungsi untuk menegaskan atau meningkas suatu bagian kalimat yang telah disebut sebelumnya. Termasuk di dalam konjungsi hal-hal yang menyatakan rincian. Kata-kata yang tenmasuk dalam konjungsi ini adalah bahkan, apalagi, yakni, yaitu, umpama, misalnya, ringkasnya, dan akhirnya.
      13. Kata Penghubung Penjelas (penetap)
      Konjungsi penjelas berfungsi menghubungkan bagian kalimat terdahulu dengan perinciannya. Contoh kata dalam konjungsi ini adalah bahwa.
      14. Kata Penghubung Pembenaran (konsesif)
      Konjungsi pembenaran adalah konjungsi subondinatif yang menghubungkan dua hal dengan cara membenarkan atau mengakui suatu hal, sementara menolak hal yang lain yang ditandai oleh konjungsi tadi. Pembenanan dinyatakan dalam klausa utama (induk kalimat), sementara penolakan dinyatakan dalam anak kalimat yang didahului oleh konjungsi seperti, meskipun, walaupun, biar, biarpun, sungguhpun, kendatipun, dan sekalipun.
      15. Kata Penghubung Urutan
      Konjungsi ini menyatakan urutan sesuatu hal. Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi ini adalah mula-mula, lalu, dan kemudian.
      16. Kata Penghubung Pembatasan
      Kata penghubung ini menyatakan pembatasan terhadap sesuatu hal atau dalam batas-batas mana perbuatan dapat dikerjakan, misalnya kecuali, selain, dan asal.
      17. Kata Penghubung Penanda
      Kata penghubung ini menyatakan penandaan terhadap sesuatu hal. Kata-kata yang ada dalam konjungsi ini adalah misalnya, umpama, dan contoh. Konjungsi lain yang masih merupakan konjungsi penanda yaitu konjungsi penanda pengutamaan. Contoh kata-kata konjungsi ini adalah yang penting, yang pokok, paling utama, dan terutama.
       18. Kata Penghubung Situasi 
      Kata penghubung situasi menjelaskan suatu perbuatan terjadi atau berlangsung dalam keadaan tertentu. Kata-kata yang dipakai dalam konjungsi ini adalah sedang, sedangkan, padahal, dan sambil.