Memahami Puisi

MEMAHAMI PUISI


Puisi dapat dipahami dengan cara:
1. Memparafrasekan Isi Puisi
     Parafrase adalah mengubah bentuk puisi menjadi sebuah prosa. Cara memparafrasekan puisi adalah dengan menambahkan kata-kata lain untuk melengkapi puisi atau memperjelas kata-kata dalam puisi dan membubuhkan tanda baca untuk memperjelas hubungan makna kata-kata tersebut. Contoh:

Dengan Puisi, Aku

Dengan puisi (yang kutulis ini) aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti (.)
Dengan puisi (ini) aku bercinta
Berbatas cakrawala (.)
Dengan puisi (ini) aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang (.)
Dengan puisi (ini) aku menangis
(terutama) (saat) Jarum waktu bila kejam mengiris (.)
Dengan puisi (ini) aku mengutuk
Nafas zaman yang (berbau) busuk
(bahkan) Dengan puisi (ini) (pula) aku berdoa
(Tuhan) Perkenankanlah kiranya.

         Setelah menambahkan tanda-tanda baca dan kata-kata yang sesuai serta mengartikan sejumlah kata, kita uraikan makna seluruh puisi dalam bentuk prosa, seperti di bawah ini:

Dengan puisi yang kutulis ini aku ingin bernyanyi sampai umurku tua nanti. Dengan puisi ini aku bercinta, mencintai sesasama tanpa batas. Dengan puisi ini aku mengenang kehidupanku yang abadi di masa datang, yakni kehidupan yang akan kualami setelah kematianku kelak. Dengan puisi ini aku menangis, terutama saat aku tidak bisa memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan kepadaku. Dengan puisi ini aku mengutuk kondisi masyarakat yang penuh dengan kejahatan, kesesatan, kebobrokan, dan kemunafikan. Bahkan, dengan puisi ini pula aku berdoa, dengan harapan Tuhan berkenan mengabulkannya.


2. Mencari Kata-Kata Kunci
          Kata kunci biasanya terdapat pada:
  • Judul Puisi artinya judul tersebut biasanya menggambarkan isi puisi
  • Kata-kata yang kerap muncul atau ditekankan dalam tiap bait, bahkan tiap larik puisi
  • Mencari kata-kata kunci tersebut dari dalam kamus (interpretasi) baik Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Sansekerta, Kamus Bahasa Jawa, Kamus Istilah lainnya.
3. Cermati Kata Kiasan
          Kata kiasan berati kata-kata yang tidak bermakna sebenarnya. Dalam contoh puisi di atas terdapat kata-kata kiasan berikut:
  • Senja umurku, bearti 'sampai umurku tua'
  • Berbatas cakrawala, bearti 'sangat luas atau tidak ada batasnya'
  • Keabadian yang akan datang, bearti 'kehidupan manusia pada masa datang yang abadi, yang akan dialaminya setelah kehidupan di dunia'
  • Jarum waktu bila kejam mengiris, bearti 'waktu akan membinasakan manusia yang tidak memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan hidup yang diberikan Tuhan kepada-Nya'
  • Nafas zaman yang busuk, bearti ' kondisi masyarakat yang penuh dengan kejahatan, kesesatan, kebobrokan, dan kemunafikan'
4. Cermati Rima, Majas, Citraan, & Tipografi
          Rima adalah persamaan bunyi. Majas adalah gaya bahasa. Citraan adalah gambaran angan (imajinasi) dan tipografi adalah susunan atau tata letak larik puisi.
 
5. Pelajari Pula Unsur-Unsur Ekstrinsik
            Seperti biografi pengarang, sosiologi, sejarah, budaya, yang turut terciptanya puisi tersebut. Karya sastra sesungguhnya tidak terlepas dari budaya yang melatarinya.



Tidak ada komentar :

Poskan Komentar