HAL PENTING DALAM PEMBELAJARAN 
MENULIS KARANGAN

Menulis Karangan
Proses mengarang adalah proses menggunakan bahasa yang dituliskan. Oleh karena itu, bahasa dalam kegiatan tulis menulis karangan harus jelas. Kejelasan bahasa dalam kegiatan menulis karangan amat penting sehingga mudah dipahami oleh pembaca (Masnur, 2009: 124). Supaya seseorang dapat mengarang maka perlu kecakapan pemakaian bahasa. Sehubungan dengan ini, kecakapan pemakaian bahasa perlu dibinakan kepada anak didik. Dengan demikian, siswa akan memperoleh kemampuan berbahasa tulis atau mengarang dengan tepat dan cermat.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan menulis adalah sebagai berikut:
1.    Penentuan Pikiran Utama
Salah satu cirri utama tulisan adalah adanya kesatuan gagasan antarparagrafnya. Sebuah tulisan (karangan) akan menjadi jelas jika mempunyai kesatuan, yaitu semua detail yang berupa contoh, alas an maupun fakta yang digunakan harus tidak menyimpang dari pikiran utama.
Seperti dikemukan oleh(Ahmadi dalam Masnur, 2009: 125), pikiran utama adalah pengendali suatu karangan sehingga pikiran utama dimaksudkan isi karangan tidak akan menyimpang. Karangan tersebut ditulis dalam bentuk paragraph dan tiap paragraph mempunyai pikiran utama. Pikiran utama yang paling baik diletakkan pada kalimat pertama paragraf.
2.    Pembentukan Paragraf
Agar sebuah karangan mudah ditangkap pembaca dan jelas akan isi konteks yang diceritakannya, maka perlulah disusun suatu paragraf. Paragraf merupakan suatu pikiran atau perasaan yang tersusun teratur berupa kalimat-kalimat dan berfungsi sebagai bagian dari suatu satuan yang lebih besar, (Ahmadi dalam Masnur, 2009: 125). Paragraf bisa terseusun dari beberapa buah kalimat yang saling berhubungan sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh untuk menyampaikan suatu maksud.
Sehubungan dengan hal ini W.J.S.Poerwadarminta dalam Masnur (2009: 126) mengemukakan sebagai berikut.
“Sekalian kalimat dalam paragraf bahu-membahu, bekerjasama untuk menerangkan, melukiskan, atau mengulas suatu hal yang menjadi pokok pembicaraan dalam paragraf itu. Jadi, kalimat-kalimat dalam paragraf itu semuanya berpusat pada suatu pokok pembicaraan atau suatu tema.”
Dengan demikian, untuk membuat suatu paragraf yang baik, kalimat-kalimat yang disusun hendaknya bertalian arti sehingga arti atau maksud tersebut menjadi jelas. Dalam hal ini anak didik dilatih menyusun paragraf secara teratur dalam bahasa tertulis. Kalimat yang bertalian arti, yaitu dalam satu paragraf kalimat-kalimatnya menerangkan, bahu-membahu, bekerja sama untuk menerangkan sesuatuatau pokok pembicaraan.
3.    Penulisan Kalimat
Kalimat dalam karangan harus jelas dan mudah dipahami, karena kalimat tertulis dalam beberapa hal tidak sama dengan kalimat tutur. Kalimat yang jelas dan terang dalam bahasa percakapan (tutur), tidak selamanya jelas dan terang, juga apabila dituliskan, sebab intonasi dalam bahasa tutur sulit untuk diterjemahkandalam bahasa tulis.
Dalam  setiap kalimat pada suatu karangan pada dasarnya kalimat itu disusu oleh unsur-unsur yang membentuknya. Unsur-unsur itulah yang membangun dan membentuk suatu kalimat. Unsur-unsur kalimat itu tidak lain adalah kata-kata. Kata-kata itulah yang membentuk kalimat. Bagian bagian kaliamt sering disebut konstituen Masnur (2009: 127). Bagian-bagian kalimat tersebut antara lain sebagai berikut.
a)      Subjek
Subjek kalimat sangat menentukan kejelasan makna sebuah kalimat. Subjek kalimat yang posisi atau letaknya kurang tepat (jelas) dalam kalimat menyebabkan kekaburan makna kalimat tersebut. Jabatan, atau fungsi subjek dalam kalimat biasanya dapat diketahui dengan jalan menggunakan pertanyaan apa, atau siapa yang dibicarakan dalam karangan.
b)      Predikat
Seperti halnya dengan subjek, predikat kalimat kebanyakan muncul secara eksplisit. Ia juga sangat menentukan kejelasan makna sebuah kalimat. Ciri-ciri umum predikat terletak di belakang subjek serta berbentuk verbal atau kata kerja.
c)      Objek
Kehadiran objek dalam kalimat tergantung pada jenis predikat kalimat serta ciri khas objek itu sendiri. Objek pada umumnya berbentuk nomina atau kata benda, atau dibelakang kata tugas “oleh” dalam kalimat pasif.
d)     Keterangan
Tempat jabatan keterangan dalam kalimat biasanya bebas dan cakupan semantis keterangan lebih kuat, yaitu membatasi unsur kalimat atau seluruh kalimat. Keterangan tidak wajib hadir dalam sebuah kalimat.
Bagian keterangan dalam kalimat bahasa indonesia menyatakan banyak makna, namun yang sering ditemukan dalam pemakaian bahasa sehari-hari adalah keterangan waktu, keterangan tempat, keterangan tujuan, keterangan instrumental.
4.    Penggunaan Tanda Baca
Karangan selalu berupa bahasa yang tertulis. Dalam beberapa hal bahasa tertulis tidak sama dengan bahasa lisan. Banyak alat-alat bahasa seperti lagu, jeda, tinggi rendah suara, tekanan suara, sukar digambarkan dalam bahasa tulis. Untuk melengkapi kekurangan itu maka dibuatlah tanda baca. Menurut Poerwadarminta tanda baca dapat membantu menjelaskan maksud atau makna kalimat. Dengan tanda baca penulis dapat menyampaikan maksudnya dengan lebih jelas. Sedanga pembaca pun dapat pula menangkap maksud kalimat dengan lebih mudah. Oleh karena itu, makna tanda baca tidak boleh di abaikan dalam tulis-menulis Poerwadarminta dalam Masnur (2009: 127).
Macam-macam tanda baca antara lain sebagai berikut.
1)        Titik
Tanda titik dipakai sebagai tanda bahwa kalimat telah selesai. Pokok tugasnya adalah sebagai penguncu kalimat.
2)        Koma
Tanda koma paling sering digunakan dalam tulis menulis. Pokok tugasnya adalah untuk menyatakan jeda sejenak, menyekat hubungan-hubungan yang perlu dijelaskan. Pada umumnya tanda komadigunakan untuk menyekat kata atau frase sejenis dan setara.
3)        Titik dua
Titik dua digunakan untuk menegaskan keterangan atau penjelas sebagai tambahan sebagai sesuatu yang telah tersebut dalam kaliamt terdahulu. Titik dua juga dapat digunakan untuk menyatakan perincian berbagai hal, benda yang disebutkan berturut turut, serta untuk menyatakan kutipan perkataan seseorang.
4)        Tanda seru dan tanda tanya
Tanda seru pada pokoknya mengintensifkan penuturan. Bisa dipakai untuk menyatakan perasaan yang kuat seperti perintah, melarang, heran, menarik perhatian, tak percaya, dan sebagainya. Sedangkan tanda tanya sudah tentu dipakai untuk menyatakan pertanyaan, baik pertanyaan yang sesungguhnya maupun bersifatmenyaksikan Poerwadarminta dalam Masnur (2009: 128).

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar