GAYA BAHASA

GAYA BAHASA


Gaya Bahasa Anak & Orang Tua
Menurut Keraf (2004: 112) gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Gaya bahasa atau style menjadi masalah atau bagian dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frase atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu. Sedangkan menurut Tarigan (1985: 5). Secara singkat dapat dikatakan bahwa “gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakaian bahasa).
Bila dilihat secara umum, dapat dikatakan bahwa gaya bahasa adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian dan sebagainya. Gaya bahasa dapat digunakan untuk menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang yang memperggunakan bahasa itu. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya.
Pada dasarnya definisi tentang gaya bahasa tersebut di atas memiliki kesamaan. Gaya bahasa juga dipahami sebagai pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis. Adapun macam-macam gaya bahasa menurut Tarigan (1985: 8) adalah sebagai berikut.
1.    Gaya Bahasa Perbandingan
a.         Gaya Bahasa Perumpamaan
Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya bertalian dan yang sengaja kita anggap sama.
Contoh : Seperti air dengan minyak.
b.        Gaya Bahasa Metafora
Metafora adalah perbandingan yang implisit di antara dua hal yang berbeda.
Contoh : Tak ada gunanya berdebat dengan orang yang berkepala batu.
c.         Gaya Bahasa Personifikasi
Personifikasi adalah gaya bahasa yang melekatkan sifat insani kepada barang yang tak bernyawa dan ide yang abstrak.
Contoh : Daun pohon kelapa melambai-lambai di tepi pantai.
d.        Gaya Bahasa Depersonifikasi
Depersonifikasi adalah gaya bahasa yang melekatkan sifat benda pada manusia atau insani.
Contoh : Andai kamu menjadi langit, maka dia menjadi tanah.
e.         Gaya Bahasa Alegori
Alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambang-lambang; merupakan metafora yang diperluas.
Contoh : Si jago merah telah pergi, tinggal asap menyapu runtuhan di pasar minggu.
f.         Gaya Bahasa Antitesis
Antitesis adalah gaya bahasa yang megadakan perbandingan antara dua antonim.
Contoh : Gadis yang secantik si Ida diperistri oleh si Dedi yang jelek itu.
g.        Gaya Bahasa Pleonasme
Pleonasme adalah pemakaian kata yang berlebihan dan bila kata yang berlebihan itu dihilangkan artinya tetap utuh.
Contoh : Ayah telah menyaksikan kecelakaan tersebut dengan mata kepalanya sendiri.
h.        Gaya Bahasa Perifrasisi
Perifrasis agak mirip dengan pleonasme, dan kata yang berlebihan itu dapat diganti dengan satu kata saja.
Contoh : Ayahanda telah tidur dengan tenang dan beristirahat dengan damai buat selama-lamanya (= meninggal atau berpulang).
i.          Gaya Bahasa Antisipasi
Antisipasi adalah gaya bahasa yang berwujud mempergunakan lebih dahulu satu atau beberapa kata sebelum gagasan atau peristiwa yang sebenarnya terjadi.
Contoh : Kami sangat gembira, minggu depan kami memperoleh hadiah dari Bapak Bupati.
j.               Gaya Bahasa Koreksio
Koreksio adalah gaya bahasa yang berupa penegasan sesuatu tetapi kemudian diperbaiki atau dikoreksi.
Contoh : Dia benar-benar mencintai Tetty, eh bukan, tapi Terry.
2.    Gaya Bahasa Pertentangan
a.         Gaya Bahasa Hiperbola
Hiperbola adalah gaya bahasa yang merupakan ungkapan yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan : jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya.
Contoh : Tabungannya berjuta-juta, emasnya berkilo-kilo, sawahnya berhektar-hektar sebagai penganti dia orang kaya.
b.        Gaya Bahasa Litotes
Litotes adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, misalnya untuk merendahkan diri.
Contoh : Hasil usahanya tidaklah mengecewakan.
c.         Gaya Bahasa Ironi
Ironi adalah gaya bahasa yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok.
Contoh : Aduh, bersihnya kamar ini, puntung rokok dan sobekan kertas bertebaran di lantai.
d.             Gaya Bahasa Oksimoron
Oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase yang sama.
Contoh : Di satu pihak film memang merupakan sarana penting bagi pendidikan, tetapi dipihak lain dapat merusak moral para penonton, tergantung dari nilai dan bobot film yang bersangkutan.
e.              Gaya Bahasa Paronomasia
Paronomasia adalah gaya bahasa yang berisi pengajaran kata-kata yang berbunyi sama tetapi bermakna lain.
Contoh : Mari kita kubik beramai-ramai kacang tanah yang setengah kubik banyaknya ini.
f.              Gaya Bahasa Paralipsis
Paralipsisi adalah gaya bahasa yang merupakan satu formula yang dipergunakan sebagai saran untuk menerangkan bahwa seseorang tidak mengatakan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri.
Contoh : Semoga Tuhan Yang Mahakuasa menolak doa kita ini, (maaf) bukan, maksud saya mengabulkannya.
g.             Gaya Bahasa Inuendo
Inuendo adalah gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh : Abangku sedikit gemuk karena terlalu kebanyakan makan daging berlemak.
h.        Gaya Bahasa Antifrasis
Antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya.
Contoh : Memang engkau orang pintar!
i.          Gaya Bahasa Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Contoh : Teman akrab ada kalanya merupakan musuh.
j.               Gaya Bahasa Klimaks
Klimaks adalah gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang makin lama makin mengandung penekanan.
Contoh : Dari kecil sampai dewasa, bahkan sampai setua ini saya belum pernah naik peawat terbang.
k.             Gaya Bahasa Antiklimaks
Antiklimaks adalah gaya bahasa yang berisi gagasan-gagasan yang berturut-turut kian berkurang kepentingannya.
Contoh : Mereka akan mengakui betapa besarnya jasa orang tua mereka, apabila mereka mengenangkan penderitaan, kegigihan orang tua itu mengasuh dan mendidik mereka. 
l.               Gaya Bahasa Apostrof
Apostrof adalah gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir.
Contoh : Wahai roh-roh nenek moyang kami yang berada  di negeri atas, tengah, dan bawah, lindungilah warga desaku ini.
m.           Gaya Bahasa Apofasis
Apofasis adalah gaya bahasa yang menegaskan sesuatu tetapi tampaknya menyangkalnya.
Contoh : Kami tidak tega mendengar cibiran tetangga bahwa kamulah yang mencuri mobil sedan itu.
n.             Gaya Bahasa Hipalase
Hipalase adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari suatu hubungan alamiah antara dua komponen gagasan.
Contoh : Nenek tidur di atas sebuah kasur yang nyenyak. (yang tidur nyenyak adalah nenek, bukan kasurnya).
o.             Gaya Bahasa Sinisme
Sinisme adalah gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati.
Contoh : Memang Pak Dukunlah orangnya, yang dapat menghidupkan orang yang telah mati, apalagi mematikan orang yang masih hidup !
p.             Gaya Bahasa Sarkasme
Sarkasme adalah gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakitkan hati.
Contoh : Mulutmu harimaumu.
3.    Gaya Bahasa Pertautan
a.         Gaya Bahasa Metonimia
Metonimia adalah gaya bahasa yang memakai nama cirri atau nama hal yang ditautkan dengan nama orang, barang, atau hal, sebagai pengantinya.
Contoh : Terkadang pena justru lebih tajam daripada pedang.
b.        Gaya Bahasa Sinekdoke
Sinekdoke adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya atau sebaliknya.
Contoh : Aduh, ke mana kamu buat matamu ?
c.         Gaya Bahasa Alusi
Alusi adalah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau tokoh berdasarkan peranggapan adanya pengetahuan yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca serta adanya kemampuan para pembaca untuk menangkap pengacuan itu.
Contoh : Kita harus memperjuangkan dengan sekuat daya agar anak-anak Indonesia tidak sempat di Arie Hanggara kan lagi. (maksudnya suatu peristiwa yang sangat memilukan hati dan tidak berperikemanusiaan). 
d.        Gaya Bahasa Eponim
Eponim adalah gaya bahasa yang mengandung nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menanyakan sifat.
Contoh : Kita tidak menyangka sedikit pun bahwa Dewi Fortuna berada di pihak tim mereka pada pertandingan ini.
e.         Gaya Bahasa Epitet
Epitet adalah gaya bahasa yang mengandung acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri khas dari seseorang atau sesuatu hal.
Contoh : Putri malam menyambut kedatangan para remaja yang sedang dimabuk asmara.
(putri malam= bulan)
f.         Gaya Bahasa Antonomasia
Antonomasia adalah gaya bahasa yang menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai penganti nama diri.
Contoh : Rakyat mengharapkan agar Yang Mulia dapat menghadiri upacara itu.
g.        Gaya Bahasa Erotesis
Erotesis adalah gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang dipergunakan dalam tulisan atau pidato yang bertujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menuntut suatu jawaban.
Contoh : Apakah sudah wajar bila kesalahan atau kegagalan itu ditimpakan seluruhnya kepada para guru ?
h.        Gaya Bahasa Paralelisme
Paralelisme adalah gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.
Contoh : Bukan saja para guru yang bertanggung jawab atas pendidikan para siswa, tetapi juga harus ditunjang oleh parah orang tua dengan cara mengawasi pelajaran anak-anak di rumah.
i.          Gaya Bahasa Gradasi
Gradasi adalah gaya bahasa yang mengandung suatu rangkaian atau urutan (paling sedikit tiga) kata atau istilah yang secara sintaksis bersamaan yang mempunyai satu atau beberapa ciri semantik secara umum dan yang diantaranya paling sedikit satu ciri diulang-ulang dengan perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif.
Contoh : Aku mempersembahkan cintaku padamu, cinta yang bersih dan suci; suci murni tanpa noda; noda yang selalu kujauhi dalam hidup ini; hidup yang berpedomankan perintah Tuhan; Tuhan pencipta alam semesta yang kupuja selama hidupku.
j.               Gaya Bahasa Asindeton
Asindeton adalah gaya bahasa yang berupa acuan di mana beberapa kata, frase, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung.
Contoh : Ayah, ibu, anak, merupakan inti suatu keluarga.
k.             Gaya Bahasa Polisindeton
Polisindeton adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari asindeton yang berupa acuan di mana beberapa kata, frase, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.
Contoh : Saya membeli buku dan majalah dan Koran dari toko itu.
4.    Gaya Bahasa Perulangan
a.         Gaya Bahasa Asonansi
Asonansi adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan bunyi vocal yang sama.
Contoh :
Lain Bangkahulu
Lain Semarang
Lain dahulu
Lain sekarang
b.        Gaya Bahasa Antanaklasis
Antanaklasis adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan kata yang sama bunyi dengan makna yang berbeda.
Contoh : Saya selalu membawa buah tangan buat buah hati saya, kalau saya pulang dari luar kota.
c.         Gaya Bahasa Kiasmus adalah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi antara dua kata dalam satu kalimat.
Contoh : Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan yang miskin justru merasa dirinya kaya.
d.        Gaya Bahasa Epizeukis
Epizeukis adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan langsung atas kata yang dipentingkan beberapa kali berturut-turut.
Contoh : Ingat, kamu harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat agar dosa-dosamu diampuni oleh Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Pengasih.
e.         Gaya Bahasa Tautotes
Tautotes adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan atas sebuah kata dalam sebuah konstruksi.
Contoh : Dia memuji kau, kau memuji dia, dia dan kau saling memuji, kau dan dia saling menghargai.
f.         Gaya Bahasa Anafora
Anaphora adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap baris atau setiap kalimat.
Contoh : Dengan giat belajar kamu bisa memasuki perguruan tinggi. Dengan giat belajar segala ujianmu dapat kamu selesaikan. Dengan giat belajar kamu dapat menjadi sarjana. Dengan giat belajar kamu dapat mencapai cita-citamu.
g.        Gaya Bahasa Epistrofa
Epistrofa adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata atau frase pada akhir baris atau kalimat berurutan.
Contoh :
Kemarin adalah hari ini
Besok adalah hari ini
Hidup adalah hari ini
Segala sesuatu adalah hari ini
h.        Gaya Bahasa Simploke
Simploke adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut.
Contoh :
kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin
i.          Gaya Bahasa Epanalepsis
Epanalepsis adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama menjadi terakhir dalam klausa dan kalimat.
Contoh : Kami sama sekali tidak melupakan amanat nenek kami.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar